Proses membuat sa dengan cara tradisional. Foto: Mahmud Ichi/ Mongabay Indonesia

Setelah oro (batang sagu yang telah dipangkur) terkumpul lumayan banyak, dipukul- pukul lagi agar lebih halus. Lalu oro masukkan ke karung dan dibawa ke tempat peremasan yang disebut goti.

Goti di dekat sumber air untuk menyaring dan meremas oro jadi tepung sagu. Kalau tepung sagu jadi, diangkat dan letakkan dalam wadah sagu yang terbuat dari daun sagu dinamakan roba, dikenal dengan tumang. Orang Maluku Utara mengenalnya dengan sagu tumang. Kemudian, sagu tumang dibawa pulang untuk konsumsi sebagai pangan utama.

Cara memangkur sagu atau pukul sagu dengan alat tradisional ini tak lagi digunakan seiring perkembagan zaman. Kini, beralih ke mesin. “Bagi kita mengolah sagu gunakan mesin dan alat tradisional memiliki cita rasa berbeda. Alat tradisional itu sagu lebih gurih dibanding mesin,” kata Muhammad.

Dia bilang, agak berat dan melelahkan tetapi rasa sagu jauh berbeda. Saat mereka pukul sagu secara tradisional, hingga mengeluarkan sari pati tepung lebih halus. Menurut dia, lebih enak makan sagu dipukul secara tradisional, dibanding pakai mesin.

Praktik seperti Muhammad ini bagian dari mengolah sagu juga ditampilkan dalam gelaran Festival Kampung Pulau dan Pesisir yang diinisiasi Perkumpulan PakaTiva 27-30 Oktober lalu, di beberapa desa di Halmahera Selatan, Maluku Utara. Desa-desa yang menggelar festival itu adalah Gane Dalam, Samo, Posi-posi, dan Gumira (Kecamatan Gane Barat) dan Desa Pasir Putih (Kecamatan Kayoa).

Festival ini memiliki tujuan, mengangkat tradisi lokal yang perlahan mulai tergerus zaman. Ia juga jadi upaya menggali kembali ragam pangan lokal yang perlahan mulai ditinggalkan karena makin masif konsumsi beras. Pangan lokal macam sagu, pisang dan ubi-ubian mulai tergantikan.

Melalui festival ini, warga menampilkan hasil produk olahan dari kebun atau hasil hutan non kayu.

“Menginisiasi festival ini sebagai bagian dari mendorong warga tetap tradisi mereka baik seni budaya maupun upaya mengkonsumsi pangan lokal seperti sagu, pisang, maupun ubi-ubian,” kata Hamzah Ata Falilat, Koordinator Festival Kampung Desa Samo Gane Barat Utara.

Berita ini dimuat di Mongabay.co.id, klik di sini untuk berita lengkap