“Sana dong so rame!” Teriak Rany, pemilik Kapal Kurabesi Eksplorer dari anjungan, sambil menunjuk ke arah luar. Nampak perahu-perahu bermesin katinting sebanyak 12 buah, mengawal dua motor body dengan muatan sound system, bermesin temple 40 pk, menuju ke arah kapal. Semuanya dipasangi bendera pelangi yang berkibar diterpa angin pagi.

Teriakan tadi sontak membubarkan aktivitas sebagian team ekspedisi. Semuanya berhamburan. Ada yang ke sisi kapal, lainnya bergegas lari ke anjungan menyaksikan atraksi rombongan perahu penjemput.

Musik Togal membuncah angkasa, beriring hempasan gelombang laut yang menerpa team penyambut di perahu-perahu kecil itu. Bak Canga, 14 perahu tersebut dengan mantap berlayar mengitari kapal yang ditumpangi team Ekspedisi Maluku EcoNusa 2020, yang kala itu masih berposisi jauh di depan perairan Kampung Ori Makurunga. Kampung ini berjarak sekitar lima kilometer dari Paser Putih jika melalui jalur darat, namun akan menjadi dua kali lipat ketika melewati jalur laut.

Matahari baru saja naik. Pancarannya belum menyengat. Jarum jam masih di angka enam lewat tiga tujuh menit. Mereka baru saja bersiap untuk sarapan, serta bercengkrama sembari menikmati sunrise yang usai menanjaki Pulau Wairoro dan Waidoba, ketika rombongan perahu penjemput dari Kampung Paser Putih wilayah Kayoa selatan itu, tiba mengitari kapal ekspedisi tersebut. Perahu-perahu bermesin katinting kemudian berjejer di dua sisi luar kapal, sedang dua perahu besar mengambil posisi di depan sebagai pembuka jalur pengawalan Kurabesi Eksplorer menuju ke lokasi acara di Kampung Paser Putih.

“Sebagai anak daratan saya takjub. Mereka perahu warna-warna cerah, pasang umbul-umbul warna-warni. Pasang musik keras-keras. Lincah sekali mengendalikan perahu, seperti sudah menyatu dengan lautan,” kata Al, sapaan akrab Nur Alifiyah, wartawan Tempo, salah satu anggota team ekspedisi yang menyaksikan atraksi nelayan Paser Putih pagi itu.

Paser Putih adalah kampung keenam, yang akan disinggahi team Ekspedisi Maluku, untuk wilayah Maluku Utara. Sebelumnya, mereka telah berlabuh dan melaksanakan kegiatan ekspedisi di Kampung Gane Dalam, Pulau Sali, Kampung Samo, Kampung Posi-Posi serta Kampung Gumira. Pada lima kampung tersebut, tak ada yang melakukan penyambutan di tengah laut. “Ini keren,” ujar Bustar Maitar, team leader rute satu Ekspedisi Maluku, sekaligus merupakan CEO EcoNusa, sambil merekam moment tersebut dari dek paling atas Kapal Kurabesi.

Sementara itu, di Plewi, salah satu delta berpasir putih yang membentang di antara perairan Kampung Guruapin dan Kampung Paser Putih, nampak team festival kampung pesisir sedang sibuk melakukan persiapan penyambutan. Satu rumah kecil, biasa disebut sabuah oleh orang lokal, telah didirikan panitia tepat di bagian tengah delta yang agak besar daratannya. Digunakan sebagai pusat kegiatan. Perahu hilir mudik mengangkut warga, juga perlengkapan acara.

“Acara penyambutannya kita buat di Plewi sini. Nanti acara penyuluhan serta event lainnya, baru kita buat di kampung.” Jelas Imran Jamal, Kepala Desa Paser Putih disela kesibukannya mengatur persiapan acara.

Paser Putih merupakan salah satu desa yang masuk dalam Wilayah Kecamatan Kayoa Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan. Penduduknya berjumlah 304 jiwa, rerata bermata pencahrian petani dan nelayan, dengan luas wilayah 3,8 km2. Kampungnya dikelilingi hutan mangrove. Terdapat 64 bangunan hunian yang hampir semuanya telah memiliki fasilitas mck.

“Pada Bulan Maret 2020, Perkumpulan PakaTiva memulai aktivitas pendampingannya di kampung ini, dan bersama warga menyiapkan event festival kampung pesisir diakhir Bulan September, sekaligus untuk menyambut kedatangan team Ekspedisi Maluku EcoNusa 2020,” jelas Zhavira DB selaku penanggung jawab Festival Kampung Pesisir secara keseluruhan dari Perkumpulan Pakativa. Ia turut sibuk membantu persiapan acara pada hari itu di Plewi.

Di kejauhan laut, nampak rombongan perahu berbendera pelangi, turun naik dimainkan gelombang. Kurabesi Eksplorer berada di tengahnya, lambat berjalan dalam pengawalan mengarah Plewi. Tepat di depan delta panjang, arah bagian Barat lokasi acara, Kurabesi melepas sauh. Perahu-perahu penjemput yang dipenuhi umbul-umbul dan irama musik togal, terus melaju memutari delta tersebut, lalu bergabung dengan team darat di atas pasir timbul Plewi. Satu buah speed boat bermuatan 60 orang, yang mengangkut warga dari kampung juga telah sandar di situ.

Jumat pagi, 30 Oktober 2020 pukul 08.15, sepenggal daratan Plewi, yang dikelilingi air laut, telah padat dipenuhi orang dari Desa Paser Putih. Dua boat dari Kapal Kurabesi yang mengangkut team ekspedisi melaju cepat mendekati lokasi acara. Kepala desa beserta perangkatnya pun bersiap melakukan penyambutan.

“Selamat datang di acara festival kampung pesisir,” sambut Imran Jamal, Kepala Desa Paser Putih, sambil mempersilahkan stafnya mengalungkan bunga kepada Bustar Maitar serta istrinya Rany, kala mereka menjejakkan kaki di Plewi bersama rombongan. Irama fiol, sebagai pembuka musik togal mulai mengalun. Tifa berbunyi. Langkah-langkah kecil, juga liukan tangan para pelajar menengah pertama, dalam barisan dan seragam yang rapi, menarikan tarian sena sebagai penyambut rombongan ekspedisi.

Cuaca pagi itu cerah. Langit biru. Di atas pasir putih, yang dikelilingi laut biru tosca, acara festival kampung pesisir Desa Paser Putih resmi dibuka. Usai menikmati sajian tarian dan musik lokal dari orkes ‘Jangan Coba-Coba’, semua secara berbarengan langsung melakukan penanaman mangrove di lokasi tersebut. Acara penyambutan berlangsung sekitar dua jam. Setelah itu, semua rombongan kemudian dipimpin kepala desa, dengan menggunakan transportasi laut, bergerak ke daratan Kampung Paser Putih, yang hanya berjarak sekira 10 menit perjalanan.

“Wilayah sini penuh rep (daerah dangkal) yang kalau tidak dipahami oleh orang luar, bisa menyebabkan perahu karam. Makanya, harus ekstra hati-hati,” terang Sanusi, warga Paser Putih selaku koordinator team perahu penjemput, kala mengantar rombongan kembali ke kampung.

Dermaga terletak di bagian Timur ujung kampung. Ada selat kecil di depannya, sering digunakan warga empat kampung tetangga sebagai jalur penghubung laut. Sedikit ke arah Selatan, selat itu akan melebar, dan menyerupai danau besar, namun bukan. Laguna tersebut terhubung langsung dengan laut. Sebelah Barat, daratan terpisah, ada Kampung Tawabi, dan sebelah Timurnya, satu daratan dengan Paser Putih, ada kampung Laluin, Posi-Posi dan Sagawele. Hutan mangrovenya masih padat, serta banyak burung yang terlihat berterbangan.

Seratus meter dari dermaga, spanduk ucapan selamat datang team Ekspedisi Maluku terpampang pada bagian atas gapura kampung. Setelah itu, nampak barisan rumah berjejer kiri kanan, berpagar bambu tersusun rapi, dipisahkan jalan beton sekira tiga meter lebarnya. Sepanjang jalan menuju tenda utama kegiatan, sekira satu kilo meter jaraknya, umbul-umbul terpasang tiga tiang di setiap pagar rumah.

Sate popaco (jenis moluska di mangrove), ikan goropa dan kerapu bakar, kuah kuning, sayur garo, papeda, sagu kasbi (ubi), menjadi jamuan santap pagi para tamu undangan, diiringi gesekan fiol dan pukulan tifa. Usai itu, semua disuguhi tradisi membakar sagu kasbi, salah satu penganan khas, juga sumber pemasukan warga Kayoa. Satu jam jelang Shalat Jum’at, semua aktivitas dihentikan. Event dijeda hingga shalat usai.

Cuaca terik, panas menyengat keras. Arus dan angin mulai bergerak menimbulkan ombak, juga gelombang. Kayoa, tepatnya di Desa Guruapin, merupakan titik nol dari garis katulistiwa yang melintasi Wilayah Maluku Utara. “Wajar panasnya menyengat,” kata Lita, salah satu anggota team ekspedisi dari EcoNusa.

Kapal Kurabesi berlabuh di tengah antara dua kampung, juga dua daratan terpisah, Guruapin dan Paser Putih, di luar Delta Plewi yang membujur panjang, membelah batas luar perairan kampung. Sebuah benteng alami penghalau gelombang laut kala badai menerjang.

Berlabuh di luar Delta Plewi, sekira 1200-an meter arah laut, tanpa penghalang, Kurabesi mulai bergoyang ikut irama ombak. Dua sekocinya pun demikian. Namun, itu bukan penghalang bagi para team kesehatan dari ekspedisi untuk melanjutkan aktivitasnya, kala shalat jum’at telah usai. Dua boat kecil itu penuh terisi bahan obat-obatan, serta bantuan pertanian, juga team medis, menerjang ombak, bergerak kembali ke daratan Paser Putih.

“Selain penyuluhan terkait covid-19, pemeriksaan kesehatan gratis serta pemberian bantuan pertanian dari kawan-kawan EcoNusa sebentar, dampingan kami masih mempunyai beberapa event kejutan yang akan berlangsung hingga malam nanti,” ujar Ical, panggilan untuk Faisal Ratuela, Direktur Perkumpulan PakaTiva yang turut berada dalam sekoci tersebut. Ical merupakan salah satu peserta team ekspedisi yang ikut serta di atas kapal, sejak Kurabesi mulai memasuki perairan Maluku Utara dan berlabuh di Kampung Gane Dalam.

Penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan berlangsung sekitar tiga jam. Warga terlihat antusias mengikuti kegiatan tersebut. Kurang lebih 40-an orang yang memeriksa kesehatannya. Sementara itu, di bagian belakang rumah kepala desa, asap membumbung tinggi. Kelompok ibu – ibu menampilkan cara membuat sagu. Ada beberapa jenis yang dibakar, seperti sagu kelapa, sagu gula merah, sagu bendera dan sagu putih, serta proses pembuatan sinyole.

Pukul lima lewat tiga puluh, ketika event di kampung semua usai, team ekspedisi serta tamu undangan diajak oleh panitia untuk kembali menyebrang ke Plewi. “Saatnya kita menikmati sunset di tengah laut, tapi bukan di atas kapal, melainkan pada sepenggal daratan yang dikelilingi laut,” ujar Akbar Alwan, warga Paser Putih yang didaulat sebagai penanggung jawab penyuluhan serta event gembira, seraya mengajak semua menuju ke arah dermaga.

Perahu – perahu bergerak hilir mudik mengangkut penumpang. Dua orang bocah tersenyum melambai tangan, lalu kembali mendayung perahu kecil tanpa semang. Nampak pula di seberangnya, perahu kecil lain bermuatan lima anak, dua perempuan dan tiga lelaki, sambil bernyanyi dan tertawa, ceria mendayung sampan, juga mengarah ke Plewi. Perairan laut yang terhalang Delta itu menjadi ramai dengan perahu. Semuanya masih dipasangi umbul – umbul.

Musik togal, lalayon dan ragam irama daerah lainnya memecah sore di atas sepenggal pantai berpasir putih yang muncul di tengah laut itu. Seolah berebut ruang dengan deru angin jelang malam, irama musik itu tak tertahankan. Semua menari. Langkah kaki ikut irama, dan badan yang meliuk ikut panduan para remaja dari Desa Paser Putih. Bergoyang dalam barisan dan gerakan yang rapi.

Iqra Alimus, dokter muda yang turut sebagai peserta dalam Ekspedisi Maluku sebagai team medis, terlihat larut dalam suasana. Ia berperahu di bibir pantai. Sebuah perahu kecil yang tak sampai semeter ukurannya. Hilir mudik ke sana kemari, menghadirkan senja yang manis dalam bidikan para pecinta fotografi. Ketika ditanya soal kesannya terkait event di Paser Putih, dengan lugas ia mengisahkan semuanya sejak pagi hari.

“Saya bangun agak pagi. Sarapan belum disiapkan oleh koki, jadi saya buat sarapan sendiri, sambil memandang laut teduh. Pemandangan yang indah. Tiba – tiba di kejauhan nampak satu perahu, lalu muncul lagi dua perahu, lalu ada lagi perahu yang lebih besar, bawa alat musik yang diputar keras – keras. Eh, ternyata semakin banyak perahu yang datang memutari Kurabesi dan semuanya dipasangi umbul – umbul. Saya bingung, karena tak ada informasi. Tapi melihat perahu yang diapasangi bendera warna – warni, dan musik khas Maluku Utara, saya mulai sadar sepertinya ini penyambutan. Tak puas, saya tanyakan kepada Mas Khasan yang berdiri di sebelahku, kata dia benar ini penyambutan dari warga Paser Putih,” cerita dokter muda itu penuh antusias.

“Itu penyambutan yang luarbiasa. meriah sekali. Belum sampe di kampung, bahkan masih jauh di tengah laut, mereka sudah menjemput. Kapal kami dikawal dan diarahkan karena katanya banyak rep, kalau salah bisa karam. Lalu lokasi acara penyambutan dan penutupannya, wah keren sekali konsepnya. Dibuat di atas pasir putih yang dikelilingi laut. Terus terang saya merasa terhormat dan bangga bisa bergabung dan menjadi bagian dari acara Festival Kampung Pesisir di Desa Paser Putih ini.” Pungkas dokter muda tersebut sambil berlari bergabung dalam barisan penari.

Di Barat, matahari mulai beranjak pulang menuju garis batas cakrawala. Perlahan jatuh melewati Kurabesi yang berlabuh dalam keteduhan. Bias cahaya melarikkan jingga di langit biru. Sedang, pada Timur, Bulan telah naik memancarkan cahaya terangnya. Bulat dan besar, bertengger di atas Pulau Tawabi.

Api telah dibiarkan menyala besar, mengusir kegelapan yang mulai datang menghampiri. Sajian ikan bakar, jagung, dan gohu ikan (serupa sashimi) dijejer di atas pasir, siap disantap bersama. “Acara festival kampung pesisir Paser Putih kita buka di sini pagi tadi, dan ditutup pula di Plewi malam ini. Silahkan menyantap sajian penutup dari kami,” ajak Akbar Alwan kepada semua yang ada di situ.

Ketika Magrib usai, dan tak ada lagi perahu, serta orang mulai sepi, hanya debur ombak yang terdengar menghempas, juga nyala unggun yang bergoyang ditiup angin, saya berpikir, event ini terlalu indah tuk dilupakan begitu saja. Apalagi kala senja temaram dan bulan bersinar di atas Plewi, itu adalah moment langka yang tak selalu bisa dinikmati oleh tiap orang. Terimakasih warga Paser Putih, atas semua-muanya. Tabea.


Oleh: Alken – Pendamping Lapang Desa Paser Putih
Catatan Festival Kampung Pesisir Desa Pasir Putih menyambut Ekspedisi Maluku EcoNusa 2020