Para petani wilayah dampingan Perkumpulan PakaTiva di Halmahera Selatan, mengikuti praktik pembuatan minyak kelapa. Foto: Dokumentasi Pakativa.

Hasil temuan Perkumpulan Pakativa di Maluku Utara, turunan produksi hasil kelapa yang mencapai 50 jenis produk hingga kini belum dimanfaatkan oleh petani di Maluku Utara (Malut).

Para petani, saat ini, masih mengandalkan kopra sebagai sumber pendapatan utama. Karena itu ketika harga kopra anjlok petani menjadi terpuruk.
Sementara, hasil lain dari kelapa seperti tempurung, air dan sabuk kelapa hanya dibuang percuma. Begitu juga dalam usaha pertanian. Untuk usaha yang berfokus pada jenis hortikultura, belum banyak diusahakan. Akhirnya banyak lahan tidak termanfaatkan.

Melihat persoalan tersebut, Perkumpulan Pakativa bersama dua instansi di Pemerintah Provinsi Maluku Utara, yakni Dinas Perindustrian Perdagangan dan Dinas Pertanian, untuk memberi penguatan usaha kepada para petani di tiga desa dampingan Pakativa, di Kecamatan Gane Barat Utara, Kabupaten Halmahera Selatan. Kegiatan tersebut diselenggarakan sejak 11 hingga 15 September 2020.

Tiga Desa tersebut adalah Samo, Posi-posi, dan Gumira. Para petani di tiga desa ini mendapatkan pelatihan khsusus pembuatan arang tempurung, briket, dan minyak kelapa, serta usaha pertanian hortikultura atau sayur-mayur.

Direktur Perkumpulan Pakativa Faisal Ratuela kepada cermat, Sabtu (19/9) menjelaskan, kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari itu, untuk penguatan -penguatan ekonomi petani. Sebab, potensi hasil kelapa kelapa di Malut begitu melimpah, tetapi hanya dimanfaatkan untuk jadi kopra.

Berita ini dimuat di Kumparan.com, klik di sini untuk berita lengkap